Burung Indonesia : Pusaka Hutan Sumatera

MS Burung Indonesia - Pusaka Hutan Sumatera tahun 2009Indonesia diberkahi keanekaragaman jenis burung yang sangat tinggi. Dunia ilmiah mencatat 1598 jenis burung di Indonesia pada tahun 2009 dan menempatkan Indonesia pada posisi tertinggi untuk jumlah jenis yang khas dan tidak terdapat di belahan dunia lainnya. Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia), yaitu sebuah organisasi konservasi nasional yang didirikan pada tahun 2002, telah mengupayakan pelestarian burung dan habitatnya melalui pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini menggandeng masyarakat dan BirdLife International, yaitu sebuah kemitraan global dari organisasi-organisasi konservasi yang bertujuan untuk melestarikan burung dan habitatnya serta keanekaragaman hayati global.

SHP Burung Indonesia - Pusaka Hutan Sumatera #1 tahun 2009

Julang Jambul Hitam (Aceros corrugatus)

Julang jambul hitam adalah salah satu Bucerotidae yang terbatas di hutan primer dataran rendah dan hutan rawa sampai ketinggian 1.000 m di atas permukaan laut serta di hutan tebang pilih. Tersebar di Thailand Selatan, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kepulauan Batu dan Kalimantan Indonesia. Berukuran sedang (74 cm), burung berwarna hitam dan putih ini memiliki tanduk pendek, merah berkerenyut dan melengkung. Jantan berwarna hitam dengan sisi kepala, leher dan dua pertiga ujung ekor putih. Betina memiliki leher dan kepala berwarna hitam, kulit tidak berbulu di tenggorokan kebiruan. Satwa ini termasuk dalam daftar Terancam IUCN (International Union for Concervation of Nature).

Bangau Storm (Ciconia stormi)
Jenis ini memiliki populasi yang kecil, terpecah, dan cenderung menurun akibat penebangan hutan dan konservasi hutan alam menjadi hutan tanaman industri. Bangau ini berukuran besar (80 cm), berwarna hitam dan putih dengan paruh merah, sayap, punggung, mahkota, dan dada hitam, tengkuk, perut, dan ekor putih serta kulit muka kemerahjambuan. Tersebar dari Selatan Thailand, sepanjang Semenanjung Malaysia, Kalimantan dan Sumatera. Populasi bangau storm di Sumatera diperkirakan hanya sekitar 150 ekor. Jenis ini masuk kedalam Daftar Merah IUCN dengan status Genting (Endangered, EN).

SHP Burung Indonesia - Pusaka Hutan Sumatera #2 tahun 2009Luntur Kasumba (Harpactes kasumba)

Jenis dari suku Trogonidae ini adalah penghuni kawasan tropis yang tersebar di hutan dataran rendah Semenanjung Thailand, Sabah, Sarawak dan Semenanjung Malaysia, Kalimantan Indonesia dan Brunei Darussalam. Populasinya terhitung rendah meskipun di habitat alami yang sesuai, yaitu di hutan primer dengan ketinggian di bawah 600 m di atas permukaan laut. Berukuran besar (33 cm) dan berkepala hitam. Pada burung jantan terdapat kalung merah khas yang lebar dan bentuk bulan sabit putih di dada. Betina memiliki tenggorokan dan dada abu-abu kecokelatan serta perut cokelat muda. Termasuk dalam kategori Terancam IUCN.

Cekakak Hutan Melayu (Actenoides concretus)

Burung ini tersebar di hutan dataran rendah dari Selatan Tenasserim Myanmar, Semenanjung Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera (termasuk pulau-pulau lepas pantainya), Brunei Darussalam, Kalimantan dan Jawa Indonesia. Burung ini berukuran sedang (23 cm) berwarna biru dan merah karat dengan mahkota kehijauan khas. Jantan memiliki kerah leher dan tubuh bagian bawah jingga merah karat, strip mata hitam, strip kumis dan tubuh bagian atas biru gelap. Betina memiliki sayap hijau tua berbintik kuning tua. Termasuk dalam kategori Hampir Terancam IUCN.

Mentok Rimba (Cairina scutulata)

Burung dari suku Anatidae ini terkonsentrasi di lahan basah dan tersebar dari Timur Laut India dan Bangladesh sampai Asia Tenggara di Sumatera dan Jawa. Di seluruh dunia populasi satwa ini hanya tersisa 1.000 ekor, di antaranya sekitar 150 ekor berada di bagian Timur dan Barat Laut Sumatera. Berukuran besar (66-75 cm), berwarna gelap, dan kepala serta lehernya keputih-putihan. Sementara punggung hitam-hijau menngkilap, bagian bawah cokelat gelap. Tergolong dalam Daftar Merah IUCN dengan status Genting (Endangered, EN).

Kuau Raja (Argusianus argus)

Burung ini termasuk suku Phasanidae, hidup di permukaan tanah, biasa terbang jarak pendek, namun dapat berlari dengan sangat baik. Kuau raja jantan berukuran sangat besar (120 cm), sedangkan betinanya lebih kecil (60 cm). Lebih suka menghuni wilayah yang berada di bawah ketinggian 900 m di atas permukaan laut, burung ini biasa dijumpai di kawasan hutan Tenasserim Myanmar, Barat Daya Thailand, Sabah dan Semenanjung Malaysia, Brunei Darussalam, Sumatera dan Kalimantan di Indonesia. Kuau raja menghadapi ancaman ganda dari kehilangan habitat dan perburuan liar di seluruh persebarannya. Tergolong status Terancam IUCN.

Tulisan ini dipublikasikan di Burung dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s