Kebudayaan Indonesia tahun 1994

SHP seri Kebudayaan Indonesia tahun 1994

Dalam rangka memperkenalkan tarian daerah di Indonesia, Dirjen Pos dan Telekomunikasi menerbitkan prangko istimewa seri “Kebudayaan Indonesia”. Dimulai dengan tari Ngremo dari Jawa Timur (1992);  tari Gending Sriwijaya dari Sumatera Selatan, tari Tempayan dari Kalimantan Barat, tari Tifa dari Irian Jaya (1993); dan kini di tahun 1994, dilanjutkan dengan tari Mengaup dari Jambi, tari Topeng dari Jawa Barat, tari Anging Mamiri dari Sulawesi Selatan, tari Pisok dari Sulawesi Utara, serta tari Bidu dari Nusa Tenggara Timur.

Prangko seri Kebudayaan Indonesia tahun 1994 berukuran 25,31 mm x 41,06 mm dengan perforasi 13,5 x 12,75. Denominasi pada prangko adalah Rp 150 (tari Mengaup), Rp 300 (tari Topeng), Rp 700 (tari Anging Mamiri), Rp 1000 (tari Pisok), dan Rp 2000 (tari Bidu). Selain itu juga diterbitkan carik kenangan bergambar tari Topeng dan sampul hari pertama.

Tari Mengaup, dari JambiTari Mengaup dari Jambi merupakan sebuah tarian upacara adat. Tarian ini dikenal juga sebagai tarian upacara memanen kopi, karena dilakukan ketika masyarakat akan memanen kopi di kebun. Gerakan tari ini menggambarkan ucapan rasa syukur dan kegembiraan atas panenan hasil kopi yang didapat.

Tari Topeng, dari Jawa BaratTari Topeng, disebut demikian karena penarinya menggunakan topeng saat menari, secara historis pertama kali ada di daerah Cirebon dan dikenal dengan tari Topeng Cirebon. Kemudian tarian ini menyebar ke beberapa daerah di Jawa Barat termasuk Priangan, sehingga dikenal juga dengan tari Topeng Priangan. Pada perkembangannya, tarian ini mengalami kreasi dalam hal gerakan maupun cerita yang ingin disampaikan, tetapi tetap mempunyai ketentuan–ketentuan tertentu yang disesuaikan dengan perwatakannya misalnya Panji yang diartikan seorang bayi yang belum mempunyai dosa, Pamindo yang artinya kedua atau lanjutan dan digambarkan pula sebagai ksatria atau sebagai seorang anak, Patih yang menggambarkan kedewasaan, dan Klana yang menggambarkan orang yang telah tua atau telah terpengaruh oleh hawa nafsu.

Tari Anging Mamiri menceritakan tentang kesetiaan seorang perempuan yang sedang menunggu kekasihnya pulang melaut. Diceritakan dari tarian tersebut, sang perempuan menanti di pantai dan berharap kekasihnya segera pulang dari mencari ikan di laut. Kipas dijadikan sebagai alat dalam menarikan tarian ini. Tari Anging Mamiri menjadi salah satu hiburan masyarakat Sulawesi Selatan ketika ada sebuah pesta, acara formal hingga penyambutan tamu kerhormatan. Selain tarian, Anging Mamiri juga dikenal sebagai sebuah lagu daerah kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.

Tari Pisok, dari Sulawesi UtaraTari Pisok, diambil dari nama sebuah burung, yaitu burung Pisok yang hidup bebas di Tanah Minahasa, merupakan tarian yang menggambarkan suasana kehidupan masyarakat Minahasa yang selalu hidup rukun, bekerja secara gotong royong, lincah dan enerjik. Tarian ini tercipta untuk mengabadikan burung Pisok yang sudah mulai langka di Minahasa.

Tari Bidu, dari Nusa Tenggara TimurTari Bidu merupakan tarian peninggalan nenek moyang Belu yang pada mulanya digunakan sebagai media perkenalan bagi pemuda dan pemudi setempat. Tarian ini menceritakan usaha seorang pemuda untuk memikat hati pemudi yang disukainya. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui si pemuda sampai si pemudi pujaannya mau dipinang. Dalam bahasa daerah setempat, tahapan tersebut yaitu hameno bidu (merencanakan dan membuat janji bersama untuk bertemu), hanimak (proses pengenalan secara etis, romantis dan berbobot), binor (berarti saling menyimpan barang berupa tempat sirih, kain selimut, pakaian, dan lainnya), Mama Lulik (barang-barang pinangan), dan Mama Tebes (membahas tentang jadwal pernikahan).

Pos ini dipublikasikan di Kebudayaan Indonesia dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s