Prangko Upacara Adat tahun 2011

SHP Upacara Adat tahun 2011Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang dihuni oleh berbagai macam suku bangsa. Kebhinekaan suku bangsa ini membuat Indonesia kaya dengan kebudayaan. Hampir di setiap propinsi memiliki 3 atau bahkan lebih tradisi budaya yang menarik untuk dinikmati. Salah satu kekayaan Indonesia dibidang kebudayaan adalah upacara adat. Kebudayaan yang berupa upacara adat ini biasanya dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa seperti upacara Grebeg Syawal di Yogyakarta dan Pasola di Nusa Tenggara Timur. Dan tidak jarang upacara adat tersebut dihubungkan dengan kepercayaan akan kehidupan setelah mati seperti Ngaben di Bali dan Tiwah di Kalimantan Tengah. Untuk menjaga kelestarian upacara-upacara adat yang ada di Indonesia, maka PT Pos Indonesia menerbitkan Prangko seri Upacara Adat.

Max Card Upacara Adat 2011 - Grebeg Syawal, YogyakartaUpacara Adat Grebeg Syawal, Yogyakarta

Grebeg Syawal adalah salah satu upacara adat di Keraton Yogyakarta. Upacara ini biasanya dipusatkan di sekitar Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta dan diselenggarakan bertepatan dengan hari raya ‘Idul Fitri atau setiap tanggal 1 Syawal tahun Hijriyah. Tradisi Grebeg Syawal sebenarnya merupakan simbol sedekah serta kedermawanan Sultan kepada rakyatnya. Inti dari upacara adat ini adalah pelepasan Gunungan Lanang yang terbuat dari susunan beraneka macam hasil bumi yang membentuk kerucut untuk diperebutkan oleh masyarakat. Upacara ini didahului dengan mengarak Gunungan Lanang dari Pagelaran Keraton Yogyakarta menuju halaman Masjid Agung Kauman untuk didoakan. Setelah mendapat doa dari penghulu masjid, Gunungan Lanang pun dilepas kepada masyarakat untuk diperebutkan. Dalam hitungan menit, seluruh hasil bumi dalam Gunungan Lanang pun habis. Sementara itu, dalam waktu yang hampir bersamaan pihak Keraton Yogyakarta menggelar upacara Ngabekten Sungkeman Abdi Dalem Kakung, yaitu tradisi sungkeman yang melibatkan kerabat Keraton Yogyakarta untuk melakukan sungkem kepada Sri Sultan Hamengkubuwono.

Max Card Upacara Adat 2011 - Ngaben, BaliUpacara Adat Ngaben, Bali

Ngaben adalah upacara pembakaran jenasah atau kremasi umat Hindu di Bali. Acara Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna mengirim jenasah kepada kehidupan mendatang. Jenasah diletakkan selayaknya sedang tidur, dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa beranggapan demikian (tertidur). Tidak ada airmata, karena jenasah secara sementara waktu tidak ada dan akan menjalani reinkarnasi atau menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian dan reinkarnasi). Hari yang sesuai untuk acara ini selalu didiskusikan dengan orang yang paham. Pada hari yang telah ditentukan, tubuh jenasah diletakkan di dalam peti mati. Peti mati ini diletakkan di dalam sarcophagus yang menyerupai lembu atau dalam wadah berbentuk vihara yang terbuat dari kayu dan kertas. Bentuk lembu atau vihara dibawa ke tempat kremasi melalui suatu prosesi. Prosesi ini tidak berjalan pada satu jalan lurus. Hal ini guna mengacaukan roh jahat dan menjauhkannya dari jenasah. Puncak acara Ngaben adalah pembakaran keseluruhan struktur (lembu atau vihara yang terbuat dari kayu dan kertas), beserta dengan jenasah. Api dibutuhkan untuk membebaskan roh dari tubuh dan memudahkan reinkarnasi. Ngaben tidak senantiasa dilakukan dengan segera. Untuk anggota kasta yang tinggi, sangatlah wajar untuk melakukan ritual ini dalam waktu 3 hari. Tetapi untuk anggota kasta yang rendah, jenasah terlebih dahulu dikuburkan dan kemudian, biasanya dalam acara kelompok untuk suatu kampung dikremasikan.

Max Card Upacara Adat 2011 - Pasola, NTTUpacara Adat Pasola, Nusa Tenggara Timur

Pasola berasal dari kata “sola” atau “hola” yang berarti sejenis lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. Setelah mendapat imbuhan “pa” (pa-sola atau pa-hola) artinya menjadi permainan. Upacara adat Pasola sendiri sebenarnya adalah bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh orang Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pasola diawali dengan pelaksanaan adat nyale, yaitu suatu upacara rasa syukur atas anugerah yang didapatkan, yang ditandai dengan datangnya musim panen dan melimpahnya cacing laut di pinggir pantai (nyale dalam bahasa setempat berarti cacing laut). Para Rato (pemuka suku) yang akan menentukan kapan penangkapan nyale boleh dilakukan oleh masyarakat. Puncak dari serangkaian upacara adat tersebut adalah apa yang disebut dengan Pasola. Kegiatan ini dilaksanakan di bentangan padang yang luas dan disaksikan oleh segenap warga dari kedua kelompok yang bertanding. Permainan Pasola sampai saat ini masih diadakan di empat kampung di Kabupaten Sumba Barat, yaitu kampung Kodi, Lamboya, Wonokaka, dan Gaura. Pelaksanaan Pasola di keempat kampung tersebut dilakukan secara bergiliran, yaitu antara bulan Februari hingga Maret setiap tahunnya.

Max Card Upacara Adat 2011 - Tiwah, Kalimantan TengahUpacar Adat Tiwah, Kalimantan Tengah

Tiwah yaitu prosesi menghantarkan roh leluhur  atau sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama sandung. Upacara adat ini dilakukan oleh suku Dayak di Kalimantan Tengah. Menurut kepercayaan Kahirangan, kematian keluarga menimbulkan “Pali” yang hanya dapat dihapus dengan upacara “Malapas Pali” yang disebut Tiwah (Nantiwah Pali Belum). Upacara Tiwah dilakukan, karena pali dapat menimbulkan akibat buruk bagi kehidupan diri pribadi, keluarga, masyarakat bahkan lingkungan, juga bagi almarhum/almarhumah. Dan untuk melapangkan jalan menuju tempat yang Maha Mulia yang disediakan Tuhan, yaitu melalui upacara Tiwah. Upacara Tiwah merupakan prosesi terakhir dari upacara kematian seseorang, yang dimulai dengan upacara Mangubur, yaitu menghantar mayat ke tempat perkuburan. Kemudian upacara Tantulak Ambun Rutas Matei yang bertujuan untuk menghantar Liau balawang panjang ganan bereng ke tempat yang bernama Lewu Balo Indu Rangkang Penyang. Ini adalah tempat penantian sementara yang konon terletak di pada tahapan ketiga dari Sorga. Upacara yang terakhir adalah Tiwah yaitu menyatukan kembali ketiga roh tadi dan menghantarkannya ke Sorga yang dikenal dengan Lewu Tatau.

Pos ini dipublikasikan di Upacara Adat dan tag , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s