Prangko Seri Cerita Rakyat 2001

Prangko Seri Cerita Rakyat 2001

Tahun 2001, prangko “Cerita Rakyat” seri keempat kembali diterbitkan. Seperti penerbitan tahun-tahun sebelumnya, empat cerita yang berkembang di masyarakat Indonesia dijadikan sebagai desain prangko. Kisah-kisah yang ditampilkan pada tahun 2001 ini adalah Batang Tuaka dari Riau, kisah pendekar Si Pitung dari DKI Jakarta, cerita terbentuknya Terusan Nusa dari Kalimantan Tengah dan asal-usul terbentuknya gunung Ile Mauraja dari Nusa Tenggara Timur. Dari semua kisah tersebut, kisah pendekar Si Pitung dari DKI Jakarta dijadikan sebagai desain souvenir sheet pada seri cerita rakyat tahun 2001 ini.

SHP Cerita Rakyat tahun 2001 - Batang TuakaCerita rakyat Batang Tuaka dari Riau mengisahkan tentang seorang anak bernama Tuaka yang durhaka kepada ibunya. Tuaka adalah seorang anak semata wayang yang tinggal di daerah aliran sungai di Indragiri dengan ibunya, seorang janda miskin. Pada suatu hari, di hutan tampak dua ekor  ular sedang memperebutkan batu kemala – sejenis batu mulia yang mahal harganya. Kedua ekor ular tersebut tidak berhasil mendapatkan batu kemala, tetapi batu mulia tersebut malah jatuh ke tangan Tuaka yang ketika itu sedang mencari kayu api di hutan itu. Ia kemudian menjual batu kemala kepada seorang saudagar, karena mahalnya saudagar tidak memiliki uang tunai yang cukup. Akhirnya disepakati pembayaran akan dilakukan di Temasik, bandar Singapura, karena saudagar tadi akan berdagang di sana. Ibunya dengan berat hati, merestui kepergian anaknya dan berpesan segera pulang setelah berhasil. Rupanya Tuaka punya pikiran lain, ia memutuskan untuk menjadi saudagar di Singapura dan mempersunting gadis setempat. Ia kini menjadi saudagar kaya raya. Pada suatu hari isterinya merindukan ingin bertemu mertuanya yang selama ini belum dikenalnya, maka kembalilah Tuaka dan isterinya ke Indragiri dengan menggunakan kapal layar. Ibunya berada diantara penduduk menyambut kedatangan Tuaka yang telah berhasil di negeri orang. Begitu melihat ibunya yang tua renta bersahaja, Tuaka menghardiknya dan tidak mengakui. Ibunya merasa sakit hati, kemudian mengutuk Tuaka yang durhaka menjadi burung elang dan isterinya menjadi burung punai. Tempat peristiwa itu sekarang disebut Batang Tuaka.

SHP Cerita Rakyat tahun 2001 - Si PitungCerita Si Pitung pendekar silat dari Betawi sangat terkenal dikalangan masyarakat DKI Jakarta. Dikisahkan dalam cerita tersebut, menjelang tengah malam sekelompok kawanan misterius mengusik ketentraman para tauke, tuan tanah, rentenir dan orang-orang yang dianggap kaki tangan kompeni. Kawanan itu melakukan perampokan atas harta benda orang-orang itu. Saat beraksi, mereka menutupi kepala dengan kain sarung, sehingga sulit dikenali. Sementara itu esok paginya penduduk pribumi yang menderita akibat penjajahan, tiba-tiba seperti menemukan secercah harapan. Penduduk miskin, keluarga yang terbelit hutang dan anak-anak yatim memperoleh sepikul beras dan sekantung uang di depan pintu rumahnya. Kejadian yang merajalela itu membuat penguasa kompeni murka dan berusaha untuk mengungkap kawanan perampok misterius itu. Penguasa kompeni akhirnya mengetahui bahwa Si Pitung, jago silat dari kampung Rawabelong berada dibalik kawanan perampok itu dan bersumpah untuk menangkapnya. Kompeni rupanya kesulitan menangkap Si Pitung yang dikenal sakti itu. Kemudian dilakukanlah siasat dengan mengintimidasi penduduk Rawabelong agar Si Pitung menyerah. Ia malah dengan gagah berani melawan pasukan kompeni. Tapi ia tidak menyadari bahwa rahasia kesaktiannya telah diketahui kompeni dan akhirnya Si Pitung mati ditembus peluru dengan diiringi tangisan penduduk kampung. Saat ini masjid peninggalan Si Pitung masih bisa disaksikan di Marunda, Jakarta Utara.

SHP Cerita Rakyat tahun 2001 - Terusan NusaKisah dari Kalimantan Tengah menceritakan tentang terbentuknya Terusan Nusa. Cerita ini dimulai dari kemarau panjang yang melanda kampung di daerah aliran sungai Rugan, anak sungai Kahayan. Bahaya kelaparan melanda penduduk, sehingga mereka berusaha mencari bahan makanan ke daerah hutan pedalaman yang masih subur. Di hutan, seorang penduduk bernama Tambing menemukan sebutir telur dan memakannya karena tidak kuat menahan lapar. Penduduk dan keluarganya menjadi kaget ketika secara perlahan-lahan menyaksikan Tambing berubah menjadi ular naga raksasa. Kemudian diketahui bahwa telur itu adalah telur seekor naga. Tambing, sang naga harus menyesuaikan hidup di sungai. Timbulah prahara lain, penduduk nyaris kehabisan persediaan ikan karena dimangsa naga Tambing. Kemudian penduduk memindahkan Tambing ke sungai Kahayan yang lebih besar, akibatnya populasi ikan-ikan disana menyusut drastis. Untuk mencegah bencana kepunahan, ikan Seluang berinisiatif memimpin ikan-ikan sungai Kahayan untuk mengusir naga Tambing. Dibuatlah kabar palsu bahwa naga Tambing ditantang naga Pusai di muara sungai. Mendengar tantangan itu, Tambing segera bergerak ke hilir, lalu bersembunyi dibalik sebuah pulau di muara sungai untuk menghadang musuh. Lama menunggu membuat Tambing tertidur kelelahan. Tiba-tiba ia terbangun ketika sebuah benda menyentuh kepalanya. Dikiranya naga Pusai, maka dengan cepat dimangsanya. Ia kaget dan merasa, karena ternyata ia telah memakan ekornya sendiri. Rupanya tanpa disadari ketika tertidur, ekornya yang panjang meliuk hanyut terbawa arus ke muara dan menyentuh kepalanya sendiri. Ia akhirnya tewas. Aliran sungai yang dilalui naga Tambing menuju muara sungai Kahayan kini dikenal sebagai Terusan Nusa.

SHP Cerita Rakyat tahun 2001 - Ile MaurajaKisah terbentuknya Gunung Mauraja atau Ile Maurajadi sangat terkenal di Nusa Tenggara Timur. Di sebuah kampung hiduplah keluarga pembuat kain sarung yang sedang mengalami kekurangan kapas untuk bahan kain sarung. Anaknya bernama Raja mendapat ilham dalam mimpinya untuk pergi ke sebuah goa. Di dalam goa ia bertemu kakek tua berjanggut panjang dan memberikannya segenggam biji kapas dan berpesan agar ditanam di ladang orang tuanya. Setelah itu si kakek berubah menjadi ular pithon. Raja lari ketakutan sambil membawa biji kapas. Dalam waktu singkat tanaman kapas tumbuh membesar, sehingga keluarga Raja bisa membuat tenun kain sarung dengan cepat. Mulailah keluarga Raja hidup berkecukupan. Suatu hari Raja kembali ke goa dan melihat tujuh anak gadis berada di goa itu. Ia kemudian diberitahu bahwa sesungguhnya mereka adalh putri ular dan si kakek adalah orang tua mereka. Rupanya si kakek telah membutakan mata Raja sehingga melihat gadis-gadis itu seperti sosok manusia. Raja kemudian dinikahkan dengan putri bungsu dan membawanya ke kampung. Penduduk kampung melihat Raja memelihara ular piton dan berusaha membunuh ular itu. Rumah Raja dibakar massa sampai hangus termasuk si bungsu. Mendengar berita duka, keluarga si bungsu membalas dendam. Pasukan ular dikerahkan menyerbu dengan mendorong isi perut bumi, memporakporandakan perkampungan Raja. Perkampungan itu berubah menjadi gunung dan sekarang dikenal dengan Gunung Mauraja atau Ile Mauraja.

SS Cerita Rakyat 2001 - Si Pitung

Pos ini dipublikasikan di Cerita Rakyat dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s