Prangko Penerbitan Bersama Indonesia – Jepang

SHP JIS tahun 2008 Indonesia - Jepang #1Tahun 2008, hubungan Indonesia dan Jepang memasuki usia ke-50. Hubungan diplomatik antara Indonesia dimulai pada tahun 1958 dengan ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian antara Republik Indonesia dan Jepang. Dalam perjalanan selama 50 tahun tersebut, kedua negara telah meluaskan hubungan kerja sama dan persahabatan bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga di bidang kebudayaan, pendidikan dan bidang lainnya. Untuk memperingati peristiwa penting tersebut diadakan serangkaian kegiatan sepanjang tahun 2008 yang ditetapkan sebagai Tahun Persahabatan Indonesia – Jepang (Golden Year of Friendship 2008). Tema dari kampanye persahabatan ini adalah Menuju setengah abad yang baru. Untuk penerbitan prangko bersama antara Indonesia – Jepang, diterbitkan 10 prangko, masing-masing negara diwakili dengan lima objek/desain yang terdiri dari : gunung, candi/pagoda, bunga, alat musik tradisional dan ikan.

SHP JIS tahun 2008 Indonesia - Jepang #2Gunung/Danau Kelimutu

Dalam bahasa setempat (Pulau Flores), Keli berarti gunung dan Mutu berarti mendidih. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa Kelimutu berarti kawah gunung berapi. Tapi ada satu hal yang membedakan Kelimutu dengan gunung berapi lainnya. Gunung setinggi 1.690 meter ini memiliki kepundan yang membentuk tiga buah danau yang memancarkan warna yang berbeda: merah anggur, hijau dan biru tua. Warna-warna danau itu pun dapat berubah dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan oleh larutan mineral yang ada di dalam danau. Karena kekhasan warna air danau tersebut, danau Kelimutu mendapatkan julukan “Danau Tiga Warna”.

Gunung Fuji

Dengan ketinggian 3.776 meter, Gunung Fuji merupakan gunung tertinggi di Jepang. Gunung berapi ini masih aktif dan terakhir meletus tahun 1707. Terletak di sebelah barat Tokyo, pada hari cerah bisa terlihat dari ibukota tersebut, demikian juga dari Yokohama, bahkan dari Chiba. Dengan bentuknya yang simetris, Gunung Fuji merupakan simbol dari negara Jepang dan sangat sering muncul dalam karya seni yang menyangkut negara tersebut. Dalam prangko di latar depan dihiasi dengan bunga sakura yang juga merupakan perlambang Jepang. Karena ketinggiannya, cuaca di puncak gunung sangat dingin dan selama beberapa bulan setiap tahunnya gunung tersebut ditutupi salju.

Candi Borobudur

Borobudur merupakan candi Buddha terbesar dan termegah di dunia, terletak di Jawa Tengah. Tak heran jika candi ini diakui sebagai salah satu peninggalan sejarah dunia (World Heritage) yang dilindungi UNESCO. Para ahli berpendapat candi ini dibangun sekitar abad delapan atau sembilan pada masa kekuasaan Dinasti Syailendra. Candi setinggi 42 meter ini terdiri dari enam platfom berbentuk bujur sangkar dan dihiasi oleh 2.672 panel relief dan 504 patung Buddha. Di tengahnya terdapat patung Buddha besar yang dikelilingi 72 patung Buddha dalam stupa yang berongga. Pada abad ke-14, candi ini sempat terlantar dan terkubur selama beberapa abad. Tahun 1814 Sir Thomas Stamford Raffles, penguasa Jawa dari Inggris saat itu, menemukannya kembali.

Pagoda dari Toji

Pagoda yang terletak di Toji, barat laut Kyoto ini sering juga disebut Pagoda Bersusun Lima dari Toji (Five-Storied Pagoda of Toji), julukan yang sesuai dengan arsitektur bangunannya yang terdiri dari lima tingkat. Toji (Kyo-o- Gokoku-ji atau pelindung bangsa) dibangun tahun 796, dua tahun setelah Kaisar Kanmu memindahkan ibukota kekaisaran dari Nara ke Kyoto. Sejak tahun 1994 Toji didaftar oleh UNESCO sebagai salah satu peninggalan sejarah dunia (World Heritage). Pagoda bersusun lima dengan ketinggian 57 meter dan merupakan pagoda tertinggi di Jepang ini terakhir dibangun tahun 1634 setelah sempat terbakar lima kali. Pagoda ini menjadi simbol kota Kyoto dan hanya dibuka untuk umum beberapa hari setiap tahunnya.

Bunga Bangkai (Rafflesia arnoldi)

Tanaman ini pertama kali ditemukan pada 20 Mei 1818 oleh Sir Thomas Stamford Raffles yang juga seorang naturalis dan Dr. Joseph Arnold di tepian Sungai Manna, Lubuktapi, Bengkulu. Tanaman parasit yang dinamai berdasarkan dua nama penemunya ini, tidak terlihat memiliki akar, batang dan daun. Yang menakjubkan dari tanaman ini adalah bunganya yang sangat besar, beratnya mencapai 7 kg dan petalnya merentang sepanjang satu meter dengan ketebalan 2,5 cm. Perlu waktu sekitar enam sampai delapan bulan bagi bunga sejak berupa kuncup sampai mekar penuh. Penampilan mempesona bunga ini berlawanan dengan aroma busuk yang dikeluarkan dan merupakan pemikat rombongan lalat untuk membantu proses polinasi. Bau busuk itulah yang membuatnya mendapat julukan Bunga Bangkai.

Sakura (Cherry blossoms)

Sakura (Prunus serrulata) dengan berbagai varietasnya telaj menjadi simbol Jepang, meskipun sebenarnya tanaman ini tersebar juga di wilayah lain seperti Pegunungan Himalaya, India bagian utara, dan beberapa negara Asia Timur seperti China dan Korea. Awal musim semi yang ditandai dengan munculnya bunga sakura menjadi saat yang istimewa bagi bangsa Jepang, saat dimana masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul di taman-taman di bawah pohon sakura membuat perayaan dan menyaksikan mekarnya bunga (kegiatan ini disebut hanami)

Angklung

Angklung adalah alat mysik tradisional dari Jawa Barat yang terdiri dari batang bambu yang dirangkai secara longgar pada sebuah bingkai. Batang-batang bambu tersebut dibentuk dalam aturan yang berbeda sehingga pada saat digoyang akan menghasilkan bunyi yang berbeda pula. Tabung-tabung bambu itu disusun tegak lurus dengan bagian dasarnya, bagian atasnya tergantung pada rotan atau batang bambu kecil. Untuk memainkan alat musik ini, pemain memegang bagian dasar dengan erat dengan tangan kirinya dan menggoyangkan alat ini dengan tangan kanan. Setiap bingkai angklung biasanya terdiri dari 3 atau 4 batang bambu, masing-masing menghasilkan nada yang berbeda. Dalam sebuah ensemble. seorang pemain hanya memainkan satu buah nada, karena yang memainkannya banyak, saat dibunyikan bersama akan terdengar melodi yang harmoni.

Gaku-biwa

Gaku-biwa adalah alat musik petik dengan empat dawai. Diduga asal muasalnya dari Persia dan masuk ke Jepang melalui China bersamaan dengan diperkenalkannya Gagaku, pertunjukkan musik tradisional. Pada abad pertengahan, alat musik ini dimainkan secara solo oleh para pendeta untuk menyampaikan kisah dan petuah. Bagian badan alat ini dibuat dari kayu pohon rosewood, mulberry, atau zelkova, sedangkan bagian permukaan depan terbuat dari kayu chestnut. Peg atau penanda nada pada Gaku-biwa lebih pendek dan kecil dibandingkan dengan jenis biwa yang lebih modern seperti Satsuma-biwa atau Chikuzen-biwa. Empat dawai yang terdapat pada Gaku-biwa terbuat dari sutra.

Arwana Merah (Sclerophages formosus)

Kata “arwana” berasal dari kata “nirwana” dan telah mejadi nama ikan ini dalam bahasa Inggris (arowana). Bagi banyak orang, arwana adalah ikan air tawar paling indah. Ikan ini hidup di rawa-rawa dan sungai yang berarus pelan. Ikan dewasa memangsa jenis ikan lain, sedangkan anak-anaknya biasanya memangsa serangga. Popularitas ikan ini memberi dampak baik positif maupun negatif terhadap statusnya sebagai¬† spesies yang terancam punah. Arwana memiliki ukuran cukup besar (bisa lebih dari 75 cm), tahan hidup di cuaca dingin dan bisa hidup lama (mencapai 20 tahun). Banyak jenis arwana yang dikelompokkan berdasarkan waran sisiknya antara lain hijau, perak, ekor merah, ekor kuning, dan punggung emas. Habitatnya tersebar di beberapa wilayah Asia Tenggara, namun jenis arwana merah seperti yang ditampilkan dalam prangko ini hanya terdapat di Sungai Kapuas, Kalimantan.

Koi (Cyprinus carpio)

Ikan Koi (kependekan dari nishikigoi) merupakan jenis ikan yang menjadi hiasan khas kolam-kolam di taman di Jepang. Budidaya ikan koi diperkirakan dimulai pada abad 17 di wilayah Niigata, Jepang. Namun dunia luar belum mendapat informasi yang cukup tentang perkembangan ikan ini hingga tahun 1914 ketika ikan koi Niigata dipamerkan di Tokyo dan beberapa ekor dipersembahkan kepada Putra Mahkota Hirohito pada saat itu. Sejak saat itu perhatian terhadap ikan koi merebak seantero Jepang dan kemudian mendunia. Varietas dan keindahan koi dibedakan dari warna, sisik, dan pola spot yang biasanya memiliki bentuk yang berbeda-beda. Warna pada ikan koi bisa terdiri satu hingga tiga jenis warna, yang sering muncul adalah putih, kuning, orange, merah, hitam dan biru. Pola spot sangat beragam, namun yang paling digemari adalah bentuk bundar di dahi dan bentuk batu pijakan pada bagian punggung bawah.

Pos ini dipublikasikan di Joint Issue Stamps (Penerbitan Bersama) dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s