Prangko Alat Komunikasi Tradisional

SHP Alat Komunikasi Tradisional

Komunikasi adalah perilaku makhluk untuk mempengaruhi makhluk lain. Pada manusia, perilaku tersebut berupa proses penyampaian pesan, pikiran, kehendak dan perasaan kepada orang lain. Pesan itu disampaikan melalui lambang-lambang atau alat yang dapat dipahami oleh penerima pesan. Era informasi dan komunikasi saat ini merupakan rangkaian sejarah panjang yang diawali dengan alat komunikasi sederhana. Untuk mengingat hal itu, diterbitkan prangko seri “Alat Komunikasi Tradisional” pada tanggal 10 Maret 2001 dengan menampilkan kentongan, beduk, bende dan nafiri.

Kentongan biasanya terbuat dari bambu atau kayu yang dilubangi. Bila dipukul dengan nada tertentu akan menimbulkan irama sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. Umumnya dipergunakan sebagai isyarat tanda bahaya terjadinya banjir, kebakaran, perampokan dan lain-lain.

Bende merupakan gong kecil. Pada zaman dahulu menjadi alat komunikasi penting bagi raja untuk mengumpulkan rakyatnya, apabila ada sesuatu yang harus diumumkan kepada rakyat.

Beduk bila dipukul akan menimbulkan suara berdentum yang nyaring. Beduk biasanya terdapat di masjid, yang dipukul untuk mengingatkan umat muslim akan tibanya waktu sholat. Fungsi beduk hampir sama dengan lonceng di gereja.

Nafiri umumnya dibuat dari tanduk, bambu, kayu, logam atau kerang. Bunyi ditimbulkan oleh jalur udara di dalamnya yang bergetar karena ditiup. Biasanya dipergunakan sebagai isyarat berperang atau berburu di masa lampau.

Pos ini dipublikasikan di Tradisional dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s