Lingkungan Hidup tahun 2005 – Hutan Mangrove

SHP Hari Lingkungan Hidup tahun 2005

“Green Cities” (Kota Hijau) menjadi tema yang dipilih pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Dunia tahun 2005, dengan slogan “Plant for the Planet”. Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia mengimplementasikan tema dan slogan tersebut menjadi “Jadikan Bumi Bersih dan Hijau”. Tema dan slogan tersebut menjadi tema desain dalam penerbitan Sampul Hari Pertama. Sedangkan tema desain prangko sendiri adalah Hutan Mangrove. Maksud dan tujuannya adalah untuk mensosialisasikan kepada masyarakat akan pentingnya pelestarian hutan mangrove yang sangat bermanfaat dalam menjaga ekosistem lingkungan, khususnya di daerah pesisir. Dengan menyadari akan pentingnya manfaat hutan mangrove tersebut, masyarakat dengan penuh kesadaran akan berperan aktif dalam rehabilitasi dan menjaga kelestarian hutan mangrove.

SS Hari Lingkungan Hidup tahun 2005Hutan Mangrove

Kata “mangrove” berasal dari kombinasi bahasa Portugis “mangue” dan bahasa Inggris “grove” untuk menunjukkan spesies dan komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang-surut. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut, dan umumnya mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadan tanah yang miskin oksigen. Definisi hutan mangrove sendiri adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob.

Peran dan manfaat hutan mangrove dapat disimpulkan sebagai berikut :

  • Pelindung alami yang paling kuat dan praktis untuk menahan erosi pantai. Secara alami dapat melindungi dan mereduksi kerusakan akibat bencana tsunami.
  • Dapat menghasilkan nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar berupa hasil hutan seperti kayu bakar, alkohol, gula, bahan penyamak kulit, bahan atap, bahan perahu dan lain-lain. Serta sebagai tempat hidup dan berkembang biak berbagai macam ikan dan udang
  • Merupakan habitat bagi berbagai satwa liar yang diantaranya merupakan satwa endemik dan terancam punah seperti Bekantan, Harimau Sumatera, Wilwo, Bubut Hitam, Bangau Tong Tong dan tempat persinggahan bagi burung-burung migran
  • Bermanfaat sebagai daerah wisata.

Sebaliknya, akibat yang ditimbulkan jika hutan mangrove rusak atau hilang adalah terjadinya abrasi pantai, intrusi air laut lebih jauh ke daratan, banjir, sumber mata pencaharian penduduk setempat berkurang karena perikanan laut menurun dan sebagainya.

Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara, atau kurang lebih 27% dari mangrove dunia. Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera, Kalimantan dan Papua. Ditinjau dari kekhasan ekosistem, mangrove Indonesia memiliki keragaman jenis yang tertinggi di dunia. Seluruhnya tercatat 89 jenis spesies mangrove di Indonesia, dan yang paling banyak dijumpai adalah Bakau (Rhizopora spp.),  Api-api (Avicennia spp.), Pedada (Sonneratia spp.), Tanjang (Bruguiera spp.), Nyirih (Xylocarpus spp.), Tengger (Ceriops spp.) dan Buta-buta (Exoecaria spp.).

Pos ini dipublikasikan di Lingkungan Hidup dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s