Prangko Seri Cerita Rakyat 2002

SS Cerita Rakyat 2002 - Pulau Kembaro

Cerita rakyat yang melatarbelakangi asal usul suatu tempat atau sesuatu yang dianggap keramat, tetap hidup dalam masyarakat sebagai cerita legenda. Cerita rakyat di Indonesia diwariskan sebagai sastra lisan, sehingga budaya yang berkembang dari mulut ke mulut tersebut adakalanya mengakibatkan timbulnya berbagai versi cerita untuk kisah yang sama. Seri kelima “Cerita Rakyat” tahun 2002 yang ditampilkan ini hanyalah satu dari sekian banyak cerita dan legenda yang beredar di daerah-daerah di Indonesia. Cerita rakyat yang ditampilkan kali ini adalah Pulau Kembaro dari Sumatera Selatan, kisah Nyi Roro Kidul dari Daerah Istimewa Yogyakarta, kisah Aji Tatin dari Kalimantan Timur, dan asal-usul Danau Tondano dari Sulawesi Utara.

SHP SS Cerita Rakyat tahun 2002 - Pulau Kembaro

Pulau Kembaro, Sumatera Selatan

Niat semula Than Bun An, putra bangsawan dari negeri Cina, datang ke Palembang adalah untuk berdagang. Maklum, sejak dahulu kota itu telah berkembang sebagai pusat perdagangan yang sudah dikenal sampai ke manca negara. Tetapi nasib menentukan lain tatkala melihat gadis jelita bernama Fatimah. Ia jatuh hati pada putri seorang bangsawan Palembang itu. Dan rupanya ia tidak bertepuk sebelah tangan. Hati Fatimah pun terpikat kepada pemuda yang berbeda bangsa itu, demikian juga keluarganya merestui hubungannya. Kisah kasih mereka pun kemudian berlanjut sampai ke pelaminan, namun pernikahan mereka tanpa kehadiran orang tua Than Bun An yang berada jauh di negeri seberang. Sebagai tanda restu, orang tuanya mengirimkan satu guci penuh emas permata yang dipersembahkan untuk keluarga Fatimah. Ketika kapal yang bermuatan guci itu tiba di sungai Musi, segera Than Bun An dan Fatimah menyongsongnya. Kapal itu memuat banyak guci, sehingga Than Bun An heran, mana mungkin orang tuanya memberikan emas sebanyak itu. Betapa kaget dan malu ketika membuka tutup guci yang ternyata isinya hanya sayuran yang diawetkan. Ia lalu menghancurkan guci-guci itu hingga isinya tertumpah, kemudian ia melompat ke sungai. Fatimah berusaha mendekati suaminya untuk mencegah perbuatan itu, tetapi terlambat karena kakinya terantuk guci yang masih utuh. Guci itu pecah dan ternyata berisi penuh emas. Ia tidak menghiraukan emas itu, tetapi ikut terjun ke sungai untuk menyelamatkan suaminya. Akan tetapi keduanya tenggelam, tak dapat menyelamatkan diri. Sementara itu kapal tiba-tiba oleng dan akhirnya karam. Setelah kapal tenggelam, ditempat itu muncul daratan yang kemudian dikenal dengan nama Pulau Kembaro. Masyarakat Palembang sekarang menyebutnya Pulau Kemarau yang terletak di tengah sungai Musi.

SHP Cerita Rakyat tahun 2002 - Nyi Roro Kidul

Nyi Roro Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Tersebutlah Dewi Kadita putri Raja Pajajaran Prabu Munding Wangi. Ia berparas cantik jelita dengan perangai yang baik, hingga dijuluki Dewi Srengenge yang artinya matahari jelita. Meskipun demikian, Munding Wangi senantiasa bermuram durja karena tidak mempunya putra mahkota. Kemudian Munding Wangi mempersunting Dewi Mutiara yang kemudian memberinya seorang bayi laki-laki. Kehadiran anak laki-laki itu membuat Raja merasa bahagia karena kini telah memiliki pewaris tahta kerajaan. Tetapi kebahagiaan Raja tidak berlangsung lama, karena Dewi Mutiara mempunyai tabiat buruk. Ia berambisi menguasai kerajaan, bahkan secara terang-terangan meminta kepada Raja untuk mengusir Kadita dari istana yang membuat Raja menjadi murka karenanya. Kemarahan Raja tidak berlangsung lama, karena Dewi Mutiara pandai meluluhkan hati sang Raja. Namun dalam hati Dewi Mutiara telah tertanam dendam membara. Disusunlah rencana tipu daya untuk mencelakakan dan mengusir Putri Kadita dari istana. Dengan bantuan seorang tukang sihir, Dewi Mutiara berhasil membuat guna-guna, hingga Kadita menjadi putri buruk rupa dan penuh kudis. Raja Munding Wangi sangat sedih melihat derita putrinya, tapi tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa mengikuti nasihat Patih agar Kadita dibuang jauh agar tidak menjadi aib. Kemudian Kadita keluar dari istana seorang diri, hingga akhirnya sampai di Pantai Laut Selatan. Ia lalu seakan-akan mendengar bisikan gaib untuk menceburkan diri ke laut. Ketika menyentuh air, tubuhnya pulih kembali, wajahnya memancarkan kembali indahnya matahari. Ia lalu menjelma menjadi makhluk halus dan menjadi penguasa laut selatan dan dijuluki Nyi Roro Kidul atau Kanjeng Ratu Kidul.

SHP Cerita Rakyat tahun 2002 - Aji Tatin

Aji Tatin, Kalimantan Timur

Tanah Pasir, Kalimantan Timur adalah wilayah kesultanan yang kala itu diperintah oleh Sultan Aji Muhammad. Ia memiliki putri bernama Aji Tatin, yang dipersunting oleh seorang bangsawan Kutai. Aji Tatin kemudian dipercaya oleh ayahnya memperoleh kekuasaan di wilayah teluk yang indah dan subur. Untuk kelangsungan hidup pemerintahannya, ia memungut upeti dari rakyat berupa papan. Pada suatu hari, ketika orang-orang kepercayaan Aji Tatin sedang memungut upeti yang dimuat ke dalam perahu, tiba-tiba datang angin topan dahsyat yang menimbulkan gelombang dahsyat. Awak kapal berusaha mengendalikan kapal, tetapi alih-alih untuk merapat ke pantai, perahu itu malah terbalik menerjang pulau karang. Perahu yang sarat bermuatan papan itu akhirnya karam beserta seluruh awaknya. Pulau karang penyebab malapetaka sekarang dinamakan Pulau Tukung. Peristiwa terbaliknya perahu yang bermuatan papan itu kemudian menjadi nama wilayah teluk yang sekarang dikenal dengan nama kota Balikpapan.

SHP Cerita Rakyat tahun 2002 - Danau Tondano

Danau Tondano, Sulawesi Utara

Pada jaman dahulu di daerah Tondano, Sulawesi Utara, berdiri gunung menjulang tinggi. Di lereng gunung itu terdapat kawasan yang terbagi dua wilayah, utara dan selatan. Wilayah selatan dikuasai seorang Tonaas (penguasa) yang memiliki putra tunggal bernama Maharimbow. Sementara itu, penguasa wilayah utara juga memiliki putri tunggal bernama Marimbow. Penguasa utara ini sering diliputi kerisauan saat memikirkan tentang pewaris kekuasaannya, karena anaknya seorang perempuan. Untuk mengatasi kerisauan itu, ia membuat gagasan yang terasa aneh. Ia meminta anaknya berperilaku dan berpakaian laki-laki dan berjanji untuk tidak menikah selama ia masih hidup. Permintaan Tonaas utara dipenuhi anaknya yang diikrarkan dalam suatu upacara dihadapan para Opo Ompung (tetua). Bila sumpah itu dilanggar maka akibatnya akan terjadi malapetaka di wilayah itu. Sementara itu, Tonaas selatan rupanya memiliki masalah yang hampir sama. Maharimbow diminta untuk bersumpah tidak menikah selama ayahnya masih hidup. Pada suatu hari, kedua pewaris kekuasaan yang tidak saling kenal itu bertemu di daerah perbatasan. Maharimbow merasakan bahwa orang yang dilihatnya itu, meskipun berpakaian seorang ksatria, tetapi memancarkan kelembutan seorang wanita. Ia menjadi penasaran ingin mengetahui lebih jauh orang misterius tersebut. Pada pertemuan berikutnya yang diawali dengan pertengkaran, Maharimbow berhasil membuka tabir bahwa orang misterius itu adalah seorang perempuan. Dia lah Marimbow. Kemudian anak manusia itu saling menaruh hati. Mereka sepakat untuk menjadi suami-isteri dan bertekad untuk mempersatukan kedua wilayah. Mereka tidak menyadari telah melanggar sumpah. Keesokan harinya, tiba-tiba terjadi gempa dan gunung meletus yang memusnahkan wilayah itu dengan timbunan bebatuan dan lahar panas. Kemudian wilayah itu berubah menjadi danau yang sekarang dikenal dengan nama Danau Tondano.

Pos ini dipublikasikan di Cerita Rakyat dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s