Prangko Hari Cinta Puspa dan Satwa Tahun 1994

SHP Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1994 #FaunaSetiap tanggal 5 November diperingati sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Untuk menyambut peringatan hari tersebut, PT Pos Indonesia kembali menerbitkan prangko yang menampilkan flora dan fauna identitas propinsi. Pada penerbitan tahun 1994 ini ditampilkan flora dan fauna identitas dari 5 propinsi yaitu, Andalas (Morus macroura) dan Kuau Raja (Argusianus argus) dari Propinsi Sumatera Barat, Nibung (Oncosperma tigillaria) dan Serindit Melayu (Loriculus galgulus) dari Propinsi Riau, Ampupu (Eucalyptus urophylla) dan Cikukua Lantang (Philemon buceroides) dari Propinsi Timor Timur (sekarang negara Timor Leste), Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis) dan Aryat Ambon (Alisterus amboinensis) dari Propinsi Maluku, serta Matoa (Pometia pinnata) dan Abosis Irian (Seleucidis melanoleuca) dari Propinsi Irian Jaya.

SHP Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1994 #FloraPada penerbitan prangko seri Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1994 ini, terjadi beberapa kesalahan cetak/misprint. Kesalahan cetak tersebut terjadi pada penulisan nama ilmiah burung Serindit Melayu dan bunga Anggrek Larat. Di prangko nama ilmiah Serindit Melayu tercetak Loriculus pusillus seharusnya adalah Loriculus galgulus, dan nama ilmiah Anggrek Larat tercetak Phalaenopsis amabilis seharusnya adalah Dendrobium phalaenopsis. Karena misprint tersebut, akhirnya seri tahun 1994 ini kembali ditarik dari peredaran dan menjadikannya seri yang langka dan banyak diburu. Berpisahnya Propinsi Timor Timur menjadi negara Timor Leste tahun 1999 menambah kelangkaan seri ini, karena pada seri tahun 1994 ini ditampilkan flora dan fauna identitas dari propinsi tersebut.

Andalas (Morus macroura) flora identitas Sumatera BaratAndalas (Morus macroura)

Pohon Andalas tergolong jenis kayu yang besar. Tingginya dapat mencapai hingga 40 m dengan diameter 1 m. Bentuk daunnya mirip dengan daun murbai yang memang kerabat dekatnya. Buahnya menggerombol berwarna merah bila masak, berair dan terasa asam-manis mirip buah murbai. Pohon ini tumbuh di dataran tinggi pada 900 – 1600 m dpl. Kayu dari pohon ini berkualitas tinggi. Masyarakat Minang sering memanfaatkannya dalam pembuatan rumah, baik sebagai tiang-tiang utama, balok-balok untuk landasan lantai rumah, papan lantai dan dinding rumah.

Kuau Raja (Argusianus argus), fauna identitas Sumatera BaratKuau Raja (Argusianus argus)

Burung ini mudah sekali dikenali karena memiliki bentuk tubuh yang indah dan spesifik. Tubuh yang jantan lebih besar dan berbulu dengan corak yang lebih menarik daripada yang betina. Umumnya bulu tubuh berwarna dasar kecoklatan dengan bundaran-bundaran berwarna cerah serta berbintik-bintik keabu-abuan. Kulit di sekitar kepala dan leher pada yang jantan biasanya tidak ditumbuhi bulu dan berwarna kebiruan. Pada bagian occipital (bagian belakang kepala) betina mempunyai bulu jambul yang lembut. Paruh berwarna kuning pucat dan sekitar lobang hidung berwarna kehitaman. Iris mata berwarna merah. Warna kaki kemerahan dan tidak mempunyai taji/susuh. Suara burung ini sangat lantang sehingga dapat terdengar dari kejauhan lebih dari satu mil. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor : 421/Kpts/Um/B/1970 burung ini sudah dilindungi karena sudah tergolong langka.

Nibung (Oncosperma tigillaria), flora identitas RiauNibung (Oncosperma tigillaria)

Nibung adalah salah satu jenis Palem Berduri yang umumnya dikenal oleh penduduk pesisir, seperti di daerah Riau. Palem Nibung sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat Riau sejak dahulu kala. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya beberapa tempat misalnya, Tanjung Nibung dan Teluk Nibung yang mengabadikan nama tumbuhan tersebut. Dalam upacara adat, Tongkat Nibung/Tongkat Ruyung sering digunaka sebagai lambang besarnya peranan nibung di masa silam terhadap kehidupan kebudayaan Melayu Riau. Tongkat Nibung dapat dijadikan semacam lambang kehormatan bagi seseorang yang dianggap berjasa ataupun orang yang dijadikan sesepuh atau dituakan serta dihormati.

Serindit Melayu (Loriculus galgulus)

Serindit Melayu (Loriculus galgulus), fauna identitas RiauBagi masyarakat Melayu Riau, Serindit sudah lama dimitoskan bahkan diabadikan dalam berbagai cerita rakyat dan dijadikan lambang-lambang : kebijaksanaan, keindahan, keberanian, kesetiaan, kerendahan hati maupun lambang kearifan. Serindit bentuknya seperti burung parkit, tetapi ekornya pendek. Bulu sayapnya berwarna hijau tua, dan pada ujungnya terdapat warna merah dan hitam. Badannya berwarna hijau muda bercampur kekuning-kuningan, sedangkan punggungnya terdapat warna kuning dan kecoklatan. Paruhnya berwama hitam, sedangkan di puncak kepalanya terdapat warna biru. Serindit jantan pada bagian atas dadanya terdapat warna merah berbentuk bulatan, sedangkan pada Serindit betina warnanya hijau kekuningan.

Ampupu (Eucalyptus urophylla), flora identitas Timor TimurAmpupu (Eucalyptus urophylla)

Tanaman Ampupu tumbuh secara alami di Indonesia bagian timur seperti pulau Timor, Flores, Adonara, Lomblen, Pantar, Alor dan Wetar. Tanaman ini mempunyai pertumbuhan yang sangat cepat dan dapat menghasilkan kayu yang sangat ekonomis karena penggunaannya fleksibel, dapat dijadikan bahan pulp, kayu bakar atau papan gergajian.  Selain itu, daun tanaman ini memiliki kadar minyak yang cukup tinggi. Di habitat hutan, tanaman Ampupu umumnya mendominasi lapisan paling atas.

Cikukua Lantang (Philemon buceroides), fauna identitas Timor TimurCikukua Lantang (Philemon buceroides)

Burung Cikukua Lantang merupakan burung khas Indonesia Timur. Burung ini sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini terlihat dengan banyaknya hiasan berbentuk burung ini berupa pahatan, cukilan, atau patung. Burung dewasa memiliki ukuran sekitar 33 cm, bagian samping muka dan di depan matanya berwarna hitam dan tidak ditumbuhi bulu. Mata burung ini bulat dan berwarna coklat dengan paruh hitam panjang melengkung dan berujung runcing. Habitat alami Cikukua Lantang antara lain adalah hutan-hutan, dataran rendah, daerah tepian hutan, savana, atau diantara pepohonan disepanjang pantai.

Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis), flora identitas MalukuAnggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis)

Bunga Anggrek Larat pertama kali ditemukan di Pulau Larat, Indonesia Bagian Timur. Anggrek jenis ini sangat terkenal karena lama bunga mekar dapat mencapai 27 hari. Karena sifatnya itulah anggrek ini sering dijadikan sebagai tetua persilangan. Warna bunga berkisar dari ungu pucat sampai ungu tua, dan di alam, jarang dijumpai tanaman berbunga putih. Tanaman ini tumbuh baik di daerah panas, pada ketinggian antara 0 – 150 m dpl. Di pulau Larat sendiri, umumnya tumbuh pada pohon-pohonan dan karang-karangan kapur yang cukup mendapat sinar matahari.

Aryat Ambon (Alisterus amboinensis), fauna identitas MalukuAryat Ambon (Alisterus amboinensis)

Burung ini dikenal dengan bentuk paruhnya yang bengkok yang berfungsi untuk memakan buah-buahan, biji-bijian, nektar, atau pucuk-pucuk tanaman. Warnanya sangat mencolok, kombinasi merah dan hijau. Kepala dan lehernya berwarna merah cerah, sayap serta bagian belakang tubuhnya berwarna hijau dan ekornya hitam kebiru-biruan. Aryat Ambon hidup di hutan pamah sampai ketinggian 1.400 m dpl. Di alam, hidupnya bergerombol, menempati pepohonan yang tinggi.

Matoa (Pometia pinnata), flora identitas Irian JayaMatoa (Pometia pinnata)

Meskipun Matoa juga dijumpai di tempat lain di Indonesia, namun di Irian Jaya jenis ini tidak hanya dikenal sebagai pohon berkayu tetapi terkenal sebagai pohon buah-buahan, bahkan dibudidayakan. Keragaman Buah Matoa juga dapat di, jumpai di Irian Jaya. Pohon Matoa dapat mencapai tinggi 47 m, dengan garis tengah batang 140 cm. Tumbuhan ini dapat dijumpai di hutan primer maupun sekunder, sampai ketinggian 1.700 m dpl.

Abosis Irian (Seleucidis melanoleuca), fauna identitas Irian JayaAbosis Irian (Seleucidis melanoleuca)

Abosis Irian atau lebih dikenal sebagai burung Cendrawasih 12 kawat adalah burung yang sangat mempesona. Burung ini mendapat julukan burung dewata, yang diibaratkan seindah burung surga. Di Irian Jaya, burung ini mempunyai nilai budaya yang tinggi, karena selalu digunakan dalam upacara-upacara adat. Abosis Irian mempunyai ciri yang khas yaitu berupa bulu panjang sebanyak 12 jumlahnya yang keluar dari punggungnya, dan panjangnya 30 cm. Bulu yang seperti kawat ini berwama coklat keabu-abuan. Habitatnya adalah hutan hujan dataran rendah dekat pesisir dan hutan sepanjang sungai-sungai di dataran rendah, terutama di hutan sagu dan pandanus. Pada umumnya hidup di dalam hutan pamah di Irian Jaya.

SS Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1994 #Burung CIkukua Lantang, Timor Timur

Referensi :

http://www.bk.menlh.go.id; http://www.ilhamblogindonesia.blogspot.com

Pos ini dipublikasikan di Flora dan Fauna, Flora dan Fauna Identitas Propinsi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s