Prangko Permainan Tradisional

MS Permainan TradisionalPermainan tradisional mempunyai pengaruh yang positif, terutama pada perkembangan jiwa, fisik dan mental anak. Ada nilai budaya dan pesan moral yang terkandung dalam permainan tradisional. Beberapa manfaat yang dapat diambil dari permainan tradisional diantaranya yaitu menjadikan anak lebih kreatif, mengembangkan kecerdasan anak termasuk di dalamnya adalah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan logika, kecerdasan kinestetik, kecerdasan natural, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal dan kecerdasan spiritual. Sayangnya permainan tradisional kini sudah mulai terpinggirkan dan tergantikan dengan permainan modern. Untuk menjaga agar permainan tradisional tidak hilang, PT Pos Indonesia menerbitkan seri Prangko Permainan Tradisional pada tahun 2001. Empat macam permainan tradisional yang dijadikan sebagai desain prangko yaitu Kaki Siapa, Egrang Bambu, Dakon dan Kuda Pelepah Pisang.

Prangko permainan tradisional - kaki siapaKaki Siapa

Permainan tradisional ini biasanya dimainkan oleh sekelompok anak yang berjumlah setidaknya 5 orang. Dalam permainan ini dibutuhkan sehelai sapu tangan atau sehelai kain yang digunakan sebagai penutup mata. Inti dari permainan ini adalah, dengan mata tertutup, berusaha menebak nama teman atau lawan mainnnya hanya dengan meraba kakinya. Untuk itu diperlukan feeling yang kuat dalam menerka nama si pemilik kaki teman-teman yang ikut dalam permainan tersebut. Permainan dimulai dengan cara hompipah untuk mengundi siapa yang menjadi orang yang harus menebak kaki teman-temannya. Jika sudah terpilih satu anak, maka teman-temannya bergandengan tangan mengelilingi anak tersebut sambil menyanyikan sebuah lagu. Ketika lagu selesai dinyanyikan, anak tersebut diberi kebebasan untuk memilih kaki salah satu temannya untuk ditebak namanya. Jika tebakannya benar, maka si pemilik kaki tersebut harus menggantikan posisi temannya tadi. Nilai budaya yang terkandung dari permainan ini adalah kebersamaan tanpa membeda-bedakan status sosial, karena semua anak memiliki kewajiban yang sama, yaitu harus meraba kaki temannya dan menebak namanya.

Prangko permainan tradisional - egrang bambuEgrang Bambu

Seperti namanya, permainan egrang bambu dimainkan dengan alat bantu berupa sepasang tongkat atau galah yang terbuat dari bambu setinggi 2-3 m. Sebagai pijakan kaki, diletakkan sebilah bambu berukuran 20-30 cm di daerah bawah tongkat tadi, tepatnya sekitar 50 cm dari ujung bawah galah. Egrang dapat dimainkan oleh siapapun, anak-anak maupun orang dewasa, dapat dimainkan sendiri, maupun dimainkan beramai-ramai. Jika dimainkan beramai-ramai, biasanya dilakukan sebagai adu ketahanan keseimbangan tubuh, ketahanan fisik, strategi, dan konsentrasi. Dalam hal ini, siapa yang terjatuh dia dianggap kalah. Permainan egrang bambu juga dapat dipadukan dengan permainan lain, misalnya sepak bola menggunakan egrang. Nilai budaya yang terkandung dalam permainan egrang adalah kerja keras, keuletan dan sportivitas. Nilai kerja keras tercermin dari semangat para pemain yang berusaha agar dapat mengalahkan lawannya. Nilai keuletan tercermin dari proses pembuatan egrang itu sendiri. Dan nilai sportivitas tercermin dari permainan yang tidak berbuat curang dan menerima kekalahan atau kemenangan lawan.

Prangko permainan tradisional - dakonDakon

Dakon adalah nama sebuah alat permainan berupa kayu yang berlubang-lubang di setiap sisinya. Umumnya lubang tersebut berjumlah 7 di sisi kanan kirinya, dan satu lubang besar di setiap ujungnya. Untuk memainkan dakon, diperlukan 98 buah biji yang dapat berupa biji sawo, batu-batuan kecil atau kerang laut. Dakon biasanya dimainkan oleh dua anak perempuan. Masing-masing anak perempuan yang bermain dakon tersebut, duduk berhadapan di masing-masing sisi dakon. Sebelum permainan dimulai, masing-masing lubang yang ada diisi dengan 7 buah biji. Permainan dimulai dengan cara suit untuk menentukan siapa pemain yang boleh memulai dahulu untuk mengambil dan menyebarkan biji-biji tadi. Pemain tersebut boleh memilih mangambil biji di lubang mana saja yang dia kehendaki selama lubang itu bukan lubang milik lawan. Biji-biji tersebut kemudian disebarkan satu persatu berurutan ke lubang berikutnya, termasuk ke lubang besar miliknya. Jika biji tadi habis di lubang kecil yang berisi biji lainnnya, dia dapat mengambil biji-biji tersebut dan meneruskannya kembali, begitu seterusnya. Jika biji tadi berhenti di lubang besar miliknya, dia dapat memilih kembali lubang kecil lainnya dan memulai menyebarkannya kembali. Jika biji tadi habis di lubang kosong di sisi bagiannya, dia dapat mengambil seluruh biji yang ada di lubang di seberangnya, tetapi jika berhenti di lubang kosong di sisi bagian lawannya, maka dia tidak mendapatkan apa-apa. Permainan dilanjutkan oleh pemain berikutnya dengan cara yang sama. Pemenang dari permainan ini adalah pemain yang memiliki jumlah biji terbanyak di lubang besarnya. Nilai budaya yang terkandung dari permainan ini adalah kecermatan dan kemampuan berhitung. karena pemain dituntut untuk dapat menerapkan strategi yang baik sehingga jumlah biji perolehannya bisa menjadi yang terbanyak.

Prangko permainan tradisional - kuda pelepah pisangKuda Pelepah Pisang

Seperti namanya, jenis permainan tradisional ini banyak memanfaatkan pelepah pisang, dan umumnya dimainkan oleh anak laki-laki. Permainan ini tergolong permainan yang murah tetapi kreatif. Hanya dengan sebuah pelepah pisang seorang anak dapat bermain kuda-kudaan. Kreativitas pun di tuntut dalam membuat kuda-kudaan dari pelepah pisang tersebut. Berbagai model kuda dan modifikasinya bergantung dari kreativitas masing-masing anak. Jenis permainan ini juga dapat dimainkan bersamaan dengan permainan tradisional yang lain, misalnya bermain perang-perangan yang dikombinasikan dengan permainan petak umpet. Nilai budaya yang terkandung dalam permainan kuda pelepah pisang adalah kreativitas, kerja sama dan kerja keras. Nilai kreativitas tercermin pada saat pembuatan kuda-kudaan. Nilai kerja sama dan kerja keras dapat dilihat jika permainan ini dikombinasikan dengan permainan perang-perangan, dimana seorang anak dituntut dapat bekerja sama dengan temannya yang lain dalam satu tim. Selain itu karena dalam permainan perang-perangan dilakukan dengan saling berkejaran, maka seorang anak dituntut untuk berusaha menangkap lawan mainnya.

Pos ini dipublikasikan di Tradisional dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s