Prangko Hari Cinta Puspa dan Satwa Tahun 1995

SHP Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1995 #FloraUntuk menyambut peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, pada tanggal 5 November 1995 PT Pos Indonesia kembali menerbitkan prangko istimewa dengan desain identitas Flora dan Fauna Propinsi di Indonesia. Seri ke-tiga tahun 1995 ini menampilkan Eboni (Diospyros celebica) dan Maleo (Macrocephalon maleo) dari Propinsi Sulawesi Tengah, Cendana (Santalum album) dan Biawak Komodo (Varanus komodoensis) dari Propinsi Nusa Tenggara Timur, Gandaria (Bouea macrophylla) dan Badak Cula Satu (Rhinoceros sondaicus) dari Propinsi Jawa Barat, Pinang Merah (Cyrtostachys renda) dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dari Propinsi Jambi, serta Tenggaring (Nephelium ramboutan-ake) dan Kuau Melayu (Polyplecton schleiermacheri) dari Propinsi Kalimantan Tengah.

SHP Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1995 #Fauna

Prangko Puspa tahun 1995 - Eboni, Sulawesi TengahEboni (Diospyros celebica)

Pohon Eboni memiliki batang yang lurus dengan tinggi mencapai 40 m dan diameter batang 1 m. Kayu Eboni terdiri atas kayu gubal yang berwarna putih sampai merah muda dan kayu teras yang berwarna hitam atau coklat vang berbaris-baris hitam. Kayu ini sangat berat, mempunyai berat jenis 0,76. Keawetan dan kekuatan dari kayu ini tergolong kelas satu dan berkualitas baik, sehingga termasuk kayu ekspor yang sangat mahal. Tetapi sayang, keberadaannya di habitat aslinya sudah terancam. Dengan dipilihnya jenis ini sebagai flora identitas Propinsi Sulawesi Tengah diharapkan pelestariannya dapat diprioritaskan.

Prangko Satwa tahun 1995 - Maleo, Sulawesi TengahMaleo (Macrocephalon maleo)

Burung Maleo sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah. Telur burung ini dijadikan sebagai sumber protein hewani dan digunakan dalam adat istiadat untuk diserahkan kepada orang yang dihormati. Akibatnya, banyak perburuan yang mengancam populasi burung ini. Dengan penetapan sebagai identitas propinsi, diharapkan dapat mempertahankan keberadaan burung ini. Maleo adalah burung yang mandiri, karena setelah menetas dari telur, si anak langsung dapat terbang dan mencari makan sendiri. Panjangnya sekitar 55 cm, berkaki besar berwarna abu-abu tua. Di bagian kepalanya terdapat bendolan berwarna hitam, sekeliling matanya putih berlapis kemerahan dan berparuh hitam. Punggung, ekor dan sayapnya juga hitam, tetapi bagian bawah tubuhnya berwarna putih.Umumnya burung ini merupakan jenis burung pemalu, sering bersembunyi di rerimbunan pohon. Pernyebarannya terbatas, yaitu hanya meliputi Sulawesi.

Prangko Puspa tahun 1995 - Cendana, Nusa Tenggara TimurCendana (Santalum album)

Pohon Cendana tumbuh secara alami di Nusa Tenggara Timur. Pohon ini merupakan salah satu penghasil minyak bahan pewangi yang penting di Indonesia. Minyak Cendana mengandung santalol, dan bisa digunakan sebagai obat gosok Tinggi pohon ini dapat mencapai 15 m, dengan kulit batang yang kasar dan berwarna coklat. Kayunya berwarna putih kekuningan dan berbau harum jika kering. Kayu yang berasal dari tanaman berumur 20-40 tahun dapat dijadikan sebagai perhiasan, patung, kotak cerutu, atau alat rumah tangga lainnya. Habitat tanaman ini menyukai tanah bekas gunung berapi, tanah liat, tanah berbatu, atau tanah kapur yang longgra di daerah kering, dapat hidup sampai ketinggian 1200 m dpl. Mempunyai sifat Hemiparasit, sehingga untuk tumbuhnya diperlukan pohon inang di sekitarnya.

 Prangko Satwa tahun 1995 - Biawak Komodo, Nusa Tenggara TimurBiawak Komodo (Varanus komodoensis)

Biawak Komodo adalah satwa endemik yang termasuk jenis binatang purba dan sampai sekarang masih hidup di dunia. Disebut juga biawak raksasa karena ukurannya yang besar. panjang badannya mencapai 3 m dengan bobot mencapai 140 kg. Ekornya panjang, gemuk agak pipih dan merupakan alat yang ampuh untuk merobohkan mangsanya. Kepalanya bermoncong tidak runcing dengan lidah yang panjang dan bercabang dua di ujungnya dengan warna kuning kemerahan. Keempat kakinya memiliki kuku yang runcing. Seluruh tubuhnya berkulit keras dengan warna hitam keabuan. Penyebaran hewan ini ada di Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, dan di Taman Nasional Komodo.

Prangko Puspa tahun 1995 - Gandaria, Jawa BaratGandaria (Bouea macrophylla)

Gandaria adalah tanaman asli Indonesia. Suku Sunda di Jawa Barat biasa menggunakan buah ini untuk lalapan atau dibuat asinan. Dalam upacara adat Tebus Wetengan, buah Gandaria muda dijadikan sebagai salah satu komponen Rujak Kanistren. Pohon Gandaria tidak terlalu tinggi. Tanaman berumur 4 tahun yang berasal dari biji hanya mencapai tinggi 2 m, tetapi dengan tajuk yang rimbun. Secara alami tumbuh di hutan basah di daerah dengan ketinggian tidak lebih dari 300 m dpl.

Prangko Satwa tahun 1995 - Badak Cula Satu, Jawa BaratBadak Cula Satu (Rhinoceros sondaicus)

Badak Cula Satu merupakan satu dari lima badak yang masih ada. Bersama dengan badak India (Rhinoceros unicornis), hewan ini masuk ke dalam genus yang sama, Rhinoceros. Ciri-ciri badak jawa yaitu : umumnya memiliki warna tubuh abu-abu kehitaman dengan lipatan kulit yang menyerupai tameng baja, hanya memiliki satu cula dengan panjang sekitar 25 cm, namun pada badak betina sangat kecil atau bahkan tidak tumbuh, tingginya antara 1,4 – 1,7 m dengan panjang 2 – 4 m dan berat dapat mencapai 2300 kg. Di alam bebas, badak jawa dapat hidup sampai umur 30 – 45 tahun. Menurut laporan WWF Indonesia, sampai tahun 2011 jumlah badak jawa di Taman Nasional Ujung Kulon diperkirakan hanya tersisa 35 ekor saja.

Prangko Puspa tahun 1995 - Pinang Merah, JambiPinang Merah (Cyrtostachys renda)

Pinang Merah atau Palem Merah merupakan jenis tumbuhan asli yang hidup di propinsi Jambi. Bagi sebagian masyarakat Jambi, terdapat kepercayaan apabila tumbuhan ini ditanam di depan rumah maka akan menolak segala bentuk bala dan guna-guna. Pinang Merah memiliki ciri-ciri batang berkayu, bentuknya lurus dengan tinggi 6 – 14 m. Tumbuhan ini berumpun dengan anakan yang tersebar di sekeliling induknya. Daunnya bersirip agak melengkung dengan anak-anak daun agak kaku berwarna hijau cemerlang. Pelepah daun berbentuk seludang dan mempunyai ciri khas berwarna merah dari pangkal pelepah daun hingga ke ujungnya. Dengan sosok penampilannya yang ramping, tinggi semampai, ditambah kontrasnya warna merah, menjadikan tanaman ini primadona suatu taman.

Prangko Satwa tahun 1995 - Harimau Sumatera, JambiHarimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)

Jambi merupakan salah satu wilayah sebaran habitat alami Harimau Sumatera. Sejak dulu hewan ini memiliki tempat tersendiri di dalam tatanan adat istiadat masyarakat Jambi. Harimau Sumatera dihormati dan disegani serta diakui keberadaannya, terbukti dengan panggilan “datuk” terhadap satwa karnivora tersebut. Ukuran panjang tubuh hewan ini dapat mencapai 280 cm dan panjang ekor antara 60 -95 cm. Berat tubuhnya berkisar antara 227 – 272 kg. Garis-garis loreng tersusun rapat, rambut-rambut pada bagian perut berwarna putih membatasi daerah loreng-loreng yang sempit. Harimau jantan umumnya bersifat soliter (menyendiri). Tipe habitat Harimau Sumatera bervariasi dari dataran pantai berawa payau dan tawar, dataran rendah dan perbukitan dengan tipe vegetasi hutan, primer, sekunder, padang rumput, lahan perkebunan dan pertanian masyarakat.

Prangko Puspa tahun 1995 - Tenggaring, Kalimantan TengahTenggaring (Nephelium ramboutan-ake)

Tenggaring mirip dengan rambutan, karena tanaman ini merupakan salah satu pohon yang termasuk dalam kelompok rambutan hutan. Rasa buahnya tidak seenak atau semanis rambutan biasa, namun kandungan minyak nabati dari bijinya lebih banyak dari pada biji rambutan biasa. Minyak ini biasa digunakan dalam proses pembuatan lilin dan sabun. Tenggaring dikategorikan sebagai buah langka karena pertumbuhan pohonnya yang lambat dan kurang diminati masyarakat untuk dibudidayakan. Tinggi pohon Tenggaring dapat mencapai 20 m, dengan bentuk dan percabangan daunnya mirip dengan daun rambutan, hanya helaian daunnya lebih kecil. Bentuk buah pun seperti buah rambutan yaitu bundar telur serta daging buahnya manis yang bercampur sedikit asam. Pada umumnya tumbuhan ini tumbuh liar di hutan-hutan Kalimatan. Tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 200 – 350 m dpl, serta mempunyai curah hujan 3000 mm per tahun.

Prangko Satwa tahun 1995 - Kuau Melayu, Kalimantan TengahKuau Melayu (Polyplecton schleiermacheri)

Kuau Melayu banyak terdapat di Kalimantan Tengah. Ukuran hewan ini hanya sebesar ayam kampung dengan kaki yang lebih panjang. Kuau jantan memiliki ekor yang panjang seperti ekor Kuau Besar, tetapi yang betina berekor lebih pendek. Burung jantan yang total panjangnya antara 406 – 533 mm, memiliki jambul panjang berwarna biru kehijauan metalik, sedangkan burung betina jambulnya lebih pendek. Dahi dan sisi kepala bergaris-garis abu-abu dan hitam. Punggungnya coklat dengan bintik-bintik hitam. Bulu penutup dan ekor berwarna biru, sedangkan kerongkongannya keputih-putihan dan kulit muka jingga kemerah-merahan. Kuau Melayu menghuni hutan pamah tropika basah, sampai mencapai ketinggian 1000 m dpl.

SS Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1995 #Harimau Sumatera, Jambi

Referensi :

http://www.bk.menlh.go.id

Pos ini dipublikasikan di Flora dan Fauna, Flora dan Fauna Identitas Propinsi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s