Burung Indonesia Terancam Punah

MS Burung Indonesia Terancam PunahIndonesia merupakan salah satu dari lima negara di dunia yang termasuk kategori mega bird diversity. Sekitar 1597 jenis burung tersebar di berbagai kawasan di Indonesia. Angka tersebut mewakili 16% dari total 10.000 jenis burung yang ada di dunia. Sayangnya, 126 jenis berada di ambang kepunahan, empat di antaranya merupakan jenis-jenis burung endemik yang berada di kawasan Wallacea, yaitu sebuah kawasan yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil yang terletak di antara kawasan Asia di barat dan Australia di timur. Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara merupakan bagian dari Wallacea. Empat jenis burung di kawasan tersebut yang terancam punah yaitu Celepuk Siau (Otus siaoensis), Elang Flores (Nisaetus floris), Burung Madu Sangihe (Aethopyga duyvenbodei), dan Mandar Gendang (Habroptila wallacii).

SHP Burung Indonesia Terancam Punah

Celepuk Siau (Otus siaoensis)

Satu-satunya informasi yang menjelaskan keberadaan jenis ini adalah spesimen yang dikoleksi saat eksplorasi Pulau Siau, Sulawesi Utara pada tahun 1866. Spesies ini merupakan satu-satunya jenis dari marga Otus di Pulau Siau. Sebelumnya dianggap anak jenis dari Otus magicus, hingga tahun 1998, Celepuk Siau ditetapkan sebagai jenis tersendiri. Termasuk kelompok Strigidae, burung ini berukuran sekitar 15 cm. Pemangsa avertebrata nokturnal ini memiliki kepala dan kaki relatif besar. Tubuhnya didominasi berwarna coklat. Terdapat tonjolan bulu seperti telinga yang memanjang dari alis. Karena kecilnya habitat dengan tingkat deforestasi yang diperkirakan cukup tinggi di Pulau Siau, jenis ini memperoleh status Kritis IUCN (International Union for Concervation of Nature). Survei menyeluruh diperlukan untuk melengkapi informasi ekologi dan jumlah populasinya.

Elang Flores (Nisaetus floris)

Pada tahun 2004, melalui pendekatan genetika, morfologi dan pola persebaran, para ahli taksonomi menetapkan jenis yang berkerabat dekat dengan Nisaetus cirrhatus ini sebagai jenis tersendiri. Elang berukuran sekitar 71 hingga 82 cm ini tercatat sebagai jenis penetap yang hanya terdapat di kawasan Nusa Tenggara bagian utara, tersebar di Taman Nasional Rinjani Pulau Lombok, Sumbawa dan Flores, serta pulau kecil Satonda dan Rinca. Burung ini dijumpai di hutan dataran rendah dan submontana sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Kecenderungan penurunan jumlah populasi Elang Flores berkaitan erat dengan penyusutan luas tutupan hutan di kawasan Nusa Tenggara serta penangkapan dan perdagangan ilegal. IUCN menetapkan burung ini sebagai terancam punah berstatus Kritis.

Burung Madu Sangihe (Aethopyga duyvenbodei)

Jenis burung madu yang ini hanya dapat dijumpai di Pulau Sangihe, Sulawesi Utara dengan populasi yang tersebar secara terpisah. Menyusutnya hutan primer dan sekunder menyebabkan IUCN menempatkannya sebagai jenis yang Genting. Kepadatannya sangat rendah, kecuali di lokasi Pegunungan Sahendaruman. Berukuran sekitar 12 cm, seperti umumnya burung madu, jenis ini berwarna cerah. Individu jantan memiliki bulu penutup telinga dan kerah belakang berwarna ungu-kemerahan, mahkota berwarna hijau dan biru metalik, serta punggung zaitun kekuningan. Individu betina berwarna lebih pucat. Selain di hutan alami, burung ini dapat dijumpai di habitat yang telah dimodifikasi seperti perkebunan campuran, kebun kelapa dan pinggir hutan primer hingga pada ketinggian 1000 m di atas permukaan laut.

Mandar Gendang (Habroptila wallacii)

Spesies yang hanya dijumpai di Pulau Halmahera, Maluku Utara ini memiliki jumlah populasi yang kecil dan terus menurun. Akibat habitatnya yang terfragmentasi sehingga IUCN menetapkannya dengan status Rentan. Burung misterius yang tidak dapat terbang ini berukuran sekitar 40 cm. Seluruh tubuhnya didominasi bulu abu-abu gelap, agak kecoklatan pada bagian sayap, punggung bawah dan ekor. Bagian kaki, lingkaran mata dan perisai dahi berwarna merah menyala. Jenis ini mendiami hutan rawa sagu lebat terpencil dan sulit diakses, tepi rawa kaki bukit dan semenanjung yang menjorok ke daerah rawa. Berdasarkan hilangnya habitat akibat dari pemanenan sagu secara komersil, populasi Manda Gendang diperkirakan terus menurun termasuk juga akibat dari predator dan aktivitas perburuan.

Pos ini dipublikasikan di Burung dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s