Prangko Hari Cinta Puspa dan Satwa Tahun 1996

SHP Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1996 #FaunaUntuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap arti penting lingkungan hidup, pada tanggal 9 Januari 1993 Presiden Soeharto menetapkan tanggal 5 November sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Sebelumnya, melalui surat nomor 522.5/1458/SJ tanggal 2 Juni 1990, Menteri Dalam Negeri menetapkan puspa dan satwa identitas setiap propinsi di Indonesia. Untuk memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, sejak tahun 1993 setiap tanggal 5 November diterbitkan seri prangko yang menampilkan puspa dan satwa identitas daerah. Pada penerbitan tahun 1996, seri ke-empat menampilkan Pohon Lontar (Borassus flabillifer) dan Burung Alau Gembung (Aceros cassidix) dari Propinsi Sulawesi Selatan, Bunga Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata) dan Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) dari Propinsi Kalimantan Timur, Bunga Kantil (Michelia alba) dan Burung Kepodang Emas (Orioles chinensis) dari Propinsi Jawa Tengah, Suweg Raksasa (Amorphophallus titanum) dan Beruang Madu (Helarctos malayanus) dari Propinsi Bengkulu, serta Pohon Majegau (Dysoxylum densiflorum) dan Burung Curik Bali (Leucapsor rothschildi) dari Propinsi Bali.

SHP Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1996 #Flora

Prangko Puspa tahun 1996 - Lontar, Sulawesi SelatanLontar (Borassus flabillifer)

Pohon Lontar mempunyai arti khusus dalam sejarah Indonesia karena naskah-naskah peninggalan leluhur bangsa Indonesia ditulis pada daun lontar sebelum kemudian Portugis datang memperkenalkan kertas. Sekarang Lontar dimanfaatkan antara lain untuk dijadikan gula dengan menyadap niranya. Buah Lontar menyerupai kelapa kecil berwarna hitam, dagingnya berasa manis. Lontar ditemukan di tanah-tanah kering Asia Tenggara, Afrika, India, Indo-Cina dan Australia. Keberadaanya mudah dikenali karena daunnya yang berwarna hijau kebiru-biruan dan berbentuk kipas. Di Indonesia, Lontar tumbuh terutama di Kepulauan Sunda Kecil. Namun yang mengangkatnya sebagai identitas adalah Propinsi Sulawesi Selatan. Sejak lama pohon ini dipakai sebagai lambang dari Universitas Hasanuddin dan Kodam XIV Hasanuddin.

Prangko Satwa tahun 1996 - Alau Gembung, Sulawesi SelatanAlau Gembung (Aceros cassidix)

Alau Gembung atau Rangkong Sulawesi adalah satu dari dua jenis Rangkong yang hidup di Sulawesi. Di Indonesia sendiri hidup 13 macam Rangkong. Rangkong Sulawesi ini bertanduk merah dengan warna bulu cerah dan berukuran besar. paruh dan bulu lehernya berwarna kuning. Di bawah paruh terdapat warna hijau, sedangkan badannya berwarna hitam dan ekor putih. Rangkong bertelur di sarang yang berupa lubang di batang pohon. Burung ini juga dinamakan burung tahun karena konon lipatan pada pangkal paruhnya menunjukkan usia burung.

Prangko Puspa tahun 1996 - Anggrek Hitam, Kalimantan TimurAnggrek Hitam (Coelogyne pandurata)

Indonesia kaya akan jenis-jenis anggrek, namun Anggrek Hitam dari Kalimantan Timur merupakan salah satu jenis yang langka. Anggrek ini berwarna hijau muda dengan noktah-noktah hitam di bagian tengahnya. Batangnya berupa umbi yang besar dan pipih, daunnya lebar dan panjang. Tiap umbi hanya memiliki dua helai daun. Anggrek Hitam tumbuh di semak belukar dan berbunga antara bulan April dan Desember. Nilai Anggrek hitam semakin tinggi karena selain langka, bunganya tidak bertahan lama.

Prangko Satwa tahun 1996 - Pesut Mahakam, Kalimantan TimurPesut Mahakam (Orcaella brevirostris)

Kebanyakan lumba-lumba hidup di laut dan hanya sedikit jenis yang hidup di air tawar. Salah satunya adalah Pesut Mahakam, satwa khas Kalimantan Timur yang hidup di Sungai dan Danau Mahakam, yang letaknya ratusan kilometer dari laut. Berbeda dengan lumba-lumba laut, pesut berkepala bulat tanpa moncong dengan panjang tubuh sekitar 2 m dan berat 100 kg. Karena hidup di dalam air berlumpur tebal, dalam hal mencari mangsa atau menghindari rintangan, pesut tidak mengandalkan matanya yang kecil, melainkan menggunakan pantulan gelombang suara.

Prangko Puspa tahun 1996 - Kantil Putih, Jawa TengahBunga Kantil (Michelia alba)

Bunga Kantil telah lama dikenal dan digunakan masyarakat untuk berbagai acara, baik yang bersifat magis, ritual, religius maupun acara biasa. Tanaman ini berasal dari India dan diperkirakan masuk ke Indonesia abag 6-7, bersamaan dengan masuknya agam Hindu. Tanaman ini tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku. Masing-masing daerah mempunyai sebutan berbeda untuk bunga ini, seperti Jeumpa Gadeng (Aceh), Campaka Putiah (Minang), Campaka Bodas (Sunda), Campala (Madura), Campala Mariri (Minahasa), Bunga Eja (Makasar), Kupa Hanya (Seram), dan secara nasional dikenal dengan nama Cempaka Putih. Pohon Kantil dapat mencapai ketinggian 25 m, diameter batangnya 1.5 m dan berbunga sepanjang tahun terutama pada musim hujan.

Prangko Satwa tahun 1996 - Kepodang Emas, Jawa TengahKepodang Emas (Orioles chinensis)

Burung Kepodang Emas terdapat di beberapa tempat di Indonesia. Bulunya berwarna kuning keemasan dengan poleng hitam di sekitar mata dan tengkuknya. Garis hitam terdapat pula pada sayap dan ekornya. Sedangkan paruh dan kakinya berwarna merah jambu. Satwa ini memakan buah-buahan kecil dan serangga. Pengertian burung Kepodang bagi masyarakat Jawa Tengah adalah selain sebagai sebutan burung yang berwarna kuning, dapat juga mempunyai arti generasi muda, anak, keindahan, kekompakan dan keserasian.

Prangko Puspa tahun 1996 - Suweg Raksasa, BengkuluSuweg Raksasa (Amorphophallus titanum)

Suweg Raksasa disebut juga bunga Kibut. Bunga langka ini hanya muncul sekali dalam tiga tahun dengan ketinggian mencapai lebih dari 2 m. Rekor tertinggi yang pernah tercatat adalah 3.3 m. Bunga ini mengeluarkan bau busuk yang mengundang lalat dan kumbang. Kibut pertama kali ditemukan oleh penjajah naturalis dari Italia, Odoardo  Beccari, di bagian barat Sumatera pada tahun 1880-an, 60 tahun setelah Sir Stamford Raflles dan Dr. Joseph Arnold menemukan bunga Rafflesia arnoldi di wilayah yang sama.

Prangko Satwa tahun 1996 - Beruang Madu, BengkuluBeruang Madu (Helarctos malayanus)

Beruang Madu dari Bengkulu merupakan jenis beruang terkecil di dunia dan satu-satunya jenis beruang yang hidup di Indonesia. Beruang Madu ditemukan di Burma dan Thailand, hingga Kalimantan dan Sumatera. Bulunya berwarna hitam dengan bagian putih berbentuk “V” di dadanya. Tubuhnya relatif kecil, yaitu panjang antara 1.1 – 1.4 m dan berat antara 22 – 65 kg. Meski demikian, satwa ini termasuk salah satu binatang buas yang paling ditakuti para pemburu dan penduduk sekitar hutan. Karena matanya agak rabun jauh, beruang ini bisa tiba-tiba berhadapan dengan manusia dan menjadi agresif karena terkejut. Dalam keadaan demikian, satwa ini akan berdiri dengan kaki belakangnya dan menyerang dengan kaki depan yang bercakar panjang dan tajam. Bahkan anakanya pun dapat berbahaya. Beruang Madu termasuk keluarga omnivora, memakan pucuk-pucuk berair, serangga, binatang bertulang belakang dan buah-buahan manis. Namun yang paling disukainya adalah madu. Binatang ini dapat memanjat pohon tinggi untuk mengambil sarang tawon dan melahap isinya.

Prangko Puspa tahun 1996 - Majegau, BaliMajegau (Dysoxylum densiflorum)

Majegau adalah salah satu kayu yang sering dipakai untuk ukiran karena mutunya yang tinggi, kuat seperti jati, warnanya bagus dan tahan dibenamkan dalam tanah atau air. Mengingat pentingnya peran Majegau dalam kehidupan masyarakat Bali, pohon ini diangkat sebagai identitas propinsi. Sejalan dengan itu, upaya penanaman dan pelestariannya pun dilakukan agar terhindar dari kepunahan karena penebangan pohon dan pembukaan hutam alami.

Prangko Satwa tahun 1996 - Curik Bali, BaliCurik Bali (Leucapsor rothschildi)

Curik Bali atau Jalak Bali merupakan burung langka dan indah yang hanya terdapat di Bali. Sekarang burung ini hanya ditemukan di Taman Nasional Bali Barat dengan populasi sekitar 20 – 30 ekor, padahal tahun 1984 ada sekitar 254 ekor. Kritisnya jumlah populasi satwa ini karena hilangnya habitat dan akibat penangkaran oleh pemburu. Curik Bali termasuk burung penyanyi, berparuh ramping, berbulu putih halus mengkilap dengan kulit sulah berwarna biru di sekitar matanya. Pada pinggir sayap dan ekornya terdapat aksen hitam. Saat bernyanyi, jambulnya akan berdiri menyerupai duri.

SS Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1996 #Anggrek Hitam, Kalimantan TimurSS Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1996 #Curik Bali, BaliReferensi :

Buletin filateli No : 19/Fil/1996; http://www.bk.menlh.go.id

Pos ini dipublikasikan di Flora dan Fauna, Flora dan Fauna Identitas Propinsi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s