Prangko Hari Cinta Puspa dan Satwa Tahun 1997

SHP Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1997 #FaunaTanggal 5 November adalah Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Seperti tahun-tahun sebelumnya sejak tahun 1993, pada tanggal tersebut di tahun 1997 kembali diterbitkan prangko seri Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional. Penerbitan tahun 1997 ini merupakan seri ke-lima, menampilkan flora dan fauna identitas dari lima propinsi, yaitu Buah Duku (Lansium domesticum) dan Ikan Belida (Chitala lopis) dari Sumatera Selatan, Salak Condet (Salacca zalacca) dan Elang Bondol (Haliastur indus) dari DKI Jakarta, Tengkawang Tungkul (Shorea stenoptera) dan Tajai Gading (Rhinoplax vigil) dari Kalimantan Barat, Kayu Hitam atau Ajan Kelicung (Diospyros macrophylla) dan Rusa Timor (Cervus timorensis) dari Nusa Tenggara Barat, serta  Anggrek Serat (Diplocaulobium utile) dan Anoa (Bubalus depressicornis) dari Sulawesi Tenggara.

SHP Hari Cinta Puspa dan Satwa tahun 1997 #Flora

Prangko Puspa tahun 1997 - Duku, Sumatera SelatanBuah Duku (Lansium domesticum)

Buah duku telah dikenal luas dan tumbuh secara alami serta dibudidayakan hampir di seluruh Propinsi Sumatera Selatan. Masyarakat luas mengenalnya dengan nama “Duku Palembang”, meski sebenarnya pohon duku tersebar di Semenanjung Malaya, Thailand, Myanmar, Filipina, Indonesia dan Papua Nugini. Duku Palembang terkenal di dunia perdagangan karena rasanya sangat manis dan segar, kulitnya tipis dan lebih baik dari duku daerah lain. Tanaman duku dapat tumbuh baik di dataran rendah sampai pada ketinggian 500 m dpl, dan relatif toleran terhadap keadaan tanah masam.

Prangko Satwa tahun 1997 - Ikan Belida, Sumatera SelatanIkan Belida (Chitala lopis)

Ikan Belida merupakan salah satu ikan yang sangat disukai karena rasanya yang enak, sehingga pasarannya cukup tinggi. Masyarakat setempat menyebutnya “Belido”. Ikan inilah yang dijadikan bahan dasar pembuatan makanan khas Palembang seperti kerupuk dan pempek. Selain di Indonesia, ikan ini ditemukan pula di Thailand dan Myanmar. Fauna air yang termasuk predator (memakan anak-anak ikan dan udang) ini berkembang di tempat-tempat kurang dari 30 m dari permukaan laut, panjang tubuhnya sekitar 87 cm dengan berat mencapai 15 kg.

Prangko Puspa tahun 1997 - Salak Condet, DKI JakartaSalak Condet (Salacca zalacca)

Kawasan Condet di Jakarta sudah sejak lama dikenal sebagai penghasil buah-buahan, salak salah satunya. Buah Salak Condet sangat disukai karena rasanya manis, buahnya segar dengan aroma khas dan bijinya kecil. Pohon salak yang termasuk keluarga palem ini tumbuh berumpun, buahnya bergerombol dalam bentuk tandan, warnanya coklat tua mengkilap dan bersirip teratur. Daunnya menyerupai pita panjang yang tersusun pada pelepah panjang yang berpusat pada pangkal pohon. Salak Condet dapat dibedakan menjadi 3 macam berdasarkan tempat dimana salak tersebut dibudidayakan yaitu Salak Condet Batu Ampar, Salak Condet Tanjung Barat dan Salak Condet Bale Kambang.

Prangko Satwa tahun 1997 - Elang Bondol, DKI JakartaElang Bondol (Haliastur indus)

Elang Bondol mulai dikenal sejak dijadikan maskot PON XIV tahun 1996 di Jakarta. Burung kebanggaan Jakarta ini berbulu coklat, kecuali bagian kepala, leher dan dada yang berwarna putih. Elang Bondol memiliki kemampuan terbang prima dan ketajaman mata dalam mencari mangsanya seperti ikan, katak, ular, dan kadal. Habitatnya yang sampai saat ini masih bertahan adalah gugusan Kepulauan Seribu dan Teluk Jakarta, karena biasanya elang hidup di atas rawa-rawa dengan hutan mangrovenya.

Prangko Puspa tahun 1997 - Tengkawang Tungkul, Kalimantan BaratTengkawang Tungkul (Shorea stenoptera)

Tengkawang Tungkul adalah tumbuhan kelompok Dipterocarpaceae yang menghasilkan minyak nabati yang diperoleh dari biji-bijinya. Pohon ini mulai berbuah, dengan biji tunggal, pada saat berusia antara 8-10 tahun. Jika telah matang, yang memakan waktu sekitar 4 bulan sejak pembuahan bunga, kulit buah tersebut mengeras. Dari bijinya dihasilkan minyak tengkawang yang beku dan dipergunakan untuk pengolahan coklat, sabun, lilin dan kosmetika.

Prangko Satwa tahun 1997 - Tajai Gading, Kalimantan BaratTajai Gading (Rhinoplax vigil)

Dari 14 jenis burung rangkong yang ditemukan di Indonesia, 4 jenis di antaranya terdapat di Kalimantan. Salah satunya, Tajai Gading yang dijadikan identitas Kalimantan Barat, merupakan satwa terbesar di jenisnya dan dianggap keramat oleh Suku Dayak. Suaranya yang nyaring dan menggetarkan sangat menonjol dikeheningan belantara Kalimantan. Kepalanya besar; paruhnya besar, tebal dan kuat; bulunya berwarna mencolok. Di atas kepalanya terdapat semacam tanduk berwarna merah dan kuning seperti gading, yang menjadi asal namanya. Panjang ekornya dapat mencapai dua kali panjang tubuhnya. Burung ini tersebar di Sumatera dan Kalimantan sampai ketinggian 1500 m dpl. Makanannya adalah buah-buahan, terutama buah beringin dan palem, serangga, tikus atau burung-burung kecil.

Prangko Puspa tahun 1997 - Ajan Kelicung, Nusa Tenggara BaratAjan Kelicung (Diospyros macrophylla)

Ajan Kelicung atau Kayu Hitam memiliki keistimewaan baunya yang harum. Pohon ini dipilih sebagai flora identitas Propinsi Nusa Tenggara Barat karena mempunyai arti ekonomi penting. Kualitas kayunya yang baik menyebabkan banyak dicari dan populasinya di alam sangat menurun. Pohon ini tumbuh di dataran rendah, batangnya lurus dengan garis tengah 35 cm, bunga dan buahnya muncul antara bulan Juli dan Oktober. Pohon ini secara alami tumbuh bersama jenis pohon hutan lainnya sehingga populasinya tidak murni. Banyak dijumpai di tepi sungai, di tanah datar yang tidak tergenang air, tanah liat, tanah pasir maupun tanah berbatu dalam hutan asli. Tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya, pada ketinggian 5 – 800 m dpl.

Prangko Satwa tahun 1997 - Rusa Timor, Nusa Tenggara BaratRusa Timor (Cervus timorensis)

Rusa Timor memiliki tubuh kecil, namun tanduk dan ekornya cukup panjang. Warna bulunya coklat tua kekuning-kuningan. Sejak dulu hewan ini dimanfaatkan masyarakat untuk dikonsumsi dagingnya. Selain itu kulitnya dapat dijadikan sebagai alas duduk dan tanduknya untuk hiasan rumah. Rusa Timor tersebar di daerah-daerah savana di Pulau Lombok dan Sumbawa.

Prangko Puspa tahun 1997 - Anggrek Serat, Sulawesi TenggaraAnggrek Serat (Diplocaulobium utile)

Anggrek Serat tumbuh pada batang-batang pohon tua, dengan umbi yang berumpun berwarna hijau mengkilat serta beserat. Itulah sebabnya anggrek ini dinamakan Anggrek Serat. Di ujungnya terdapat daun tunggal yang melancip. Dari lipatan pangkal daun itulah keluar bunga. Selain keindahan bunganya dapat dinikmati, serat umbi anggrek ini juga dapat dimanfaatkan untuk bahan anyaman.

Prangko Satwa tahun 1997 - Anoa, Sulawesi TenggaraAnoa (Bubalus depressicornis)

Anoa merupakan jenis kerbau terkecil di dunia, karenanya disebut juga kerbau kerdil. Bentuk dan warnanya memang mirip kerbau, tapi ukurannya sebesar kambing dengan tinggi sekitar 90 cm. Seperti juga kerbau, pakan hewan ini adalah rerumputan dan dedaunan. Pada malam hari binatang ini pergi ke pinggir laut untuk mencari air asin. Tanduknya yang pendek, lurus ke belakang dengan ujung yang runcing dapat berbahaya bagi manusia. Anoa kini termasuk salah satu binatang yang dilindungi. Kehidupannya terancam karena hutan tempat hidupnya semakin berkurang akibat pembukaan lahan.

SS Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional tahun 1997

SHP SS Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional tahun 1997Referensi :
Buletin Filateli No : 19/Fil/97; http://www.bk.menlh.go.id

Pos ini dipublikasikan di Flora dan Fauna, Flora dan Fauna Identitas Propinsi dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s